berita terkiniKeretaModa

Pendapatan Non Tiket MRT Jakarta Sentuh Angka Rp 225 Miliar

Motionupdate.com, JAKARTA – Sejak pertama kali beroperasi pada 24 Maret 2019, PT MRT Jakarta sudah mencatatkan jumlah sebanyak 19.990.959 orang. Dari segi pendapatan, moda transportasi Jakarta ini telah menghasilkan pendapatan non-tiket sebesar Rp 225 miliar dengan rincian seperti telekomunikasi sebesar 2%, iklan 55%, retail dan UKM 1%, dan hak penamaan stasiun stasiun sebesar 33%.

Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar menjelaskan, “Estimasi sekitar sembilan bulan operasi MRT Jakarta, pendapatan non-tiket yang diperoleh sebesar Rp225 miliar dan pendapatan tiket sebesar Rp180 miliar. Ini belum diaudit ya jadi angka pastinya bisa berubah. Meski demikian, ini adalah perkiraan kami.”

“Selain dua sumber pendapatkan tersebut, ada juga subsidi pemerintah sebesar Rp560 miliar, dan pendapatan lain-lain, seperti bunga bank dan selisih kurs sekitar Rp40 miliar sehingga total sekitar Rp1 triliun. Lalu, selama sembilan bulan operasinya, biaya yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp940 miliar. Dengan potensi pendapatan dikurangi pengeluaran, dari situ kita dapatkan laba komprehensif sekitar Rp60-70 miliar,” ungkap ia.

“Ini angka sementara karena laporan keuangan PT MRT Jakarta baru akan terbit di awal tahun dan akan diaudit, jadi kita baru akan dapat laporan audit keuangan sekitar Maret 2020. Namun, yang ingin saya sampaikan adalah ini gambaran besarnya. Dengan konstruksi yang bagus, layanan pelanggan yang bagus, pengembangan aspek komersialnya besar, sebenarnya ada potensi kalau perusahaan kereta itu bisa meraih laba di tahun pertama operasinya,” tutur William.

William juga menyampaikan bahwa pada 2020, PT MRT Jakarta berhatap pendapatan naik lagi. “Ada pendapatan rutin dari hak penamaan, telekomunikasi, yang otomatis tinggal bayar, kita bisa juga mendapatkan pemasukan lagi dari hak penamaan stasiun lain yang belum “terjual” hak penamaannya, ditambah pemasukan lain seperti aplikasi QR code, interkoneksi properti lain jalur MRT Jakarta, tentunya dengan komposisi subsidi yang sama,” jelas ia.

“Perlu diketahui bahwa subsidi ini bukan ke perusahaan ya, melainkan ke penumpang karena harga keekonomian tiket perjalanan yang seharusnya Rp30 ribu namun disubsidi sebesar Rp20 ribu oleh pemerintah. Kalau asumsinya besar, pada 2020 kita akan meraih laba komprehensif sekitar 200-250 miliar, pada 2021 kita akan untung sekitar Rp300-350 miliar,” jelas ia.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close